Sabtu, 19 November 2016

Bayi Super

“Hei, apa kau merasa budaya ini memberatkan kita sebagai anak sekolah? terutama laki-laki?” tanya Hafid yang duduk di pinggir sungai di tepian kota bersama Yoko dan Shinta.
“Apa ini tidak terlalu dini bagi kita untuk memulai sebuah pekerjaan?” imbuhnya.
Memang sudah beberapa tahun terakhir ini membayar sekolah dengan uang sendiri telah menjadi budaya di indonesia, mereka para laki-laki akan merasa sangat malu jika bersekolah di tingkat SMA masih meminta uang pada orangtua, mereka laki-laki masa kini ingin menjadi kuat layaknya laki-laki, berbeda dengan perempuan yang tidak harus mencari uang di usia semuda itu, hanya sedikit mereka yang ingin berkarir dan kebanyakan terfokus pada pekerjaan rumah. Kebanyakan mereka ingin menjadi ibu yang baik dan selalu ada waktu untuk anak mereka di masa depan. Yoko lelaki dengan tinggi 170 cm kulit putih walau masih kalah putih oleh Shinta yang tingginya 155 cm namun cukup mengalahkan Hafid yang sawo matang dengan tinggi 166 cm.
“Menurutmu pekerjaan apa yang cocok untuk orang tampan sepertiku?” ucap Hafid menoleh pada Yoko.
Dengan geram gigi Hafid seperti berubah bagai serigala dan dengan geram dia berkata, “Hei aku ngomong sama kamu tahu!!! bisa gak sih kamu lihat majalah playboy itu di rumah!”
“Apa? masih ketahuan ya? padahal sudah ku tutup dengan sampul loh…” jawab Yoko terkejut.
“Dasar anak ini otak mes*m,” kata Shinta dalam hati.
“Terlalu banyak orang yang bekerja dengan cara dan metode yang sama, satu-satunya yang belum ada di kota ini adalah sebuah agen yang menyediakan jasa apa saja,” ucap Yoko seraya berpikir.
“Maksudmu?” tanya Hafid bingung.
“Jadi kita menyediakan jasa serba bisa, menerima segala macam order kerjaan gitu, nganter barang, belanja online, gojek, detektif,” terang Yoko.
“Apa kau yakin? itu terlihat aneh rumit,” tanya Shinta.
“Shinta, belajarlah menghargai orang yang dahinya sedang hangat, kita cukup mendengarkan saja,” nasihat Hafid pada Shinta. “Apa maksudmu berengs*k!!!” teriak Yoko.
Tiba-tiba saat mereka hampir bertengkar ada seorang wanita muda usia sekitar 25 tahun membawa bayi dan lelaki datang ke arahnya yang mungkin usianya 45 tahunan yang dikejar oleh 7 orang.
“Anak muda bisa kau tolong kami untuk menghadapi mereka,” ucap lelaki yang seketika ambruk ke badan Yoko.
“Hei pak tua, kau itu berat tahu,” sambil menolong lelaki tua itu Yoko menggerutu.
Dengan suasana kaget Shinta bertanya, “Maaf sebenarnya ada apa?”
“Serahkan mereka pada kami jika kau tak ingin terluka bocah,” kata pemimpin kelompok.
“Tolong kami, mereka mengincar bayi ini,” dengan cemas wanita itu meminta bantuan.
“Hei kalian, bisa tidak untuk tak melibatkan kami dalam syuting acara kalian, bahkan kita belum nego bugdet kan, akting kami mahal loh, lagi pula apa ada di tahun ini orang aneh yang memakai pakaian kerajaan zaman dulu,” ucap Yoko dengan geram.
“Hei anak muda kau kira kami main-main?” lelaki tua itu menjawab.
Sambil memencet pipi memar dan alis yang sedikit berdarah, “Pak tua apa ini darah asli?”
“Sakit bodoooohhhh!!!” teriak pak tua itu sambil memberikan sebuah cincin.
“Pakai ini dan hadapi mereka, kau akan otomatis bisa memakai ini, ini cincin pembuka tenaga dalam, kau akan bisa mengalahkannya,” imbuhnya.
“Apa jika pakai ini aku akan berubah jadi ultraman? power ranger? naruto atau semacamnya?” tanya Yoko heran.
“Dasar bodoh mana ada yang begituan,” kata Hafid memotong pertanyaan.
“Hei kau masih di situ ya, kenapa berdiri di belakang Shinta hah, dasar pengecut,” sindir Yoko.
Yoko memang dikenal sebagai orang easy going yang sembrono, tapi dia memiliki jiwa seorang penolong meski cara berbicaranya urakan namun dia memiliki jiwa baik. Dengan mata seperti orang malas ia pakai cincin yang diberikan oleh lelaki yang namanya tak lain adalah Sujangi di jari manis tangan kirinya. Namun tiba-tiba seperti mengalami perubahan, “Di mana aku? sial pak tua itu membohongiku, kenapa aku pindah tempat.”
“Aaawhh, siapa yang menjitakku dari belakang hah!”
“Tidak sopan, kenapa Sujangi memberikan cincin ini pada bocah sembrono seperti kamu, apa tidak ada yang lebih baik?” tanya seorang kakek di ruang gelap dengan cahaya seperti lampu sorot dari atas. “Tak perlu bertanya, aku tahu kamu bodoh jadi akan langsung ku jelaskan, ini ada di pikiranmu, aku membawamu masuk ke pikiranmu dengan tenaga dalam di cincin ini yang terhubung langsung padaku, kamu bisa merasakan tenaga itu dan menggerakkannya sesukamu, tapi berhati-hatilah,” jelas Kakek itu dan tiba-tiba keadaan kembali ke tempat semula.
Yoko heran siapa kakek yang tadi menjitaknya sangat keras, namun tak terasa sakit, namun dia sudah tidak bisa menghindar dari pukulan pertama anak kelompok itu di perutnya. “Awwhh, sakit tahu, aku kan belum siap!! dasar licik, dan ngomong-ngomong apa kalian tidak kurang jauh di belakangku!!!” teriak Yoko marah.
Untuk keamanan mereka memang mundur sejauh 300 meter melindungi bayi yang ternyata keturunan kerajaan yang masih eksis di ujung kiri pulau. Sambil mencoba beberapa gerakan ia semakin bingung, “Kakek tua ini cara mengaktifkannya bagaimanaaa?” Belum selesai berbicara pukulan datang dari kiri, namun Yoko refleks menghindarinya, 6 orang maju melawan Yoko, pukulan tendangan bisa ditepisnya tanpa merasa sakit ketika tangannya menahan pukulan.
“Oh jadi cukup berkonsentrasi ya, ini cukup mudah,” gumamnya dalam hati.
“Jika begitu, akan ku fokuskan pada kaki, dan bergerak ke ketua kelompok mereka, pasti dia yang di belakang sana tidak menyerangku, dia pasti ketuanya, cukup mengalahkan dia dan selesai tanpa meladeni pasukan payah ini,” imbuhnya.
Dengan memfokuskan tenaga dalam di telapak kaki, Yoko bergerak ke arah ketua kelompok di belakang dan tak ada yang bisa melihat larinya saking cepatnya ia lari, terang saja belum ada 2 detik dia sudah di depan ketua kelompok yang kemudian tekejut. “Terima ini… Super playboy punch!!!” teriaknya keras sambil memfokuskan tenaga dalam ke tangan dengan jumlah besar lalu meninju ketua kelompok dengan posisi merendah menekuk kakinya. Ketua kelompok itu pingsan seketika, dan anak buahnya bingung.
“Ket ket ketua…” panggil salah satu dari mereka.
“Ayo siapa yang mau mencoba tinju harap antre,” ledek Yoko sambil menyeringai.
“Ti-ti-tidak, kami menyerah,” ucap mereka.
“Gara-gara bertarung dengan kalian aku jadi haus,” ucap Yoko.
Dari jauh Hafid berteriak, “Hei pahlawan macam apa yang habis bertarung minta minuman sama lawannya hah!!”
“Ini ini kami ada sedikit uang untuk pendekar membeli minum, tapi izinkan kami pergi,” nego salah satu anggota kelompok seraya memberikan uang pada Yoko.
“Aku dikasih loh ya, rejeki gak boleh ditolak jadi terpaksa nih aku mau nerima uang kalian,” jawab Yoko menerima uang itu.
“Dasar tukang palak, apanya yang terpaksa! kalimatmu tadi mancing!! dasar sok keren,” teriak Hafid.
Kelompok itu pergi membawa ketuanya yang pingsan, Yoko pun bergabung dengan temannya.
“Hei tukang palak, ngomong-ngomong yang tadi itu gimana caranya?” tanya Hafid.
“Oh itu ya, Fid ada kalanya kita sebagai seorang laki-laki mengeluarkan kemampuan tersembunyi kita untuk menolong orang lain,” jawab Yoko sambil menepuk pundak Hafid.
“Apa itu masuk akal dilakukan olehmu?!” teriak Hafid.
“Nak Yoko terima kasih atas pertolonganmu, aku sudah tidak sanggup menghadapi 4 kelompok sebelumnya, daya tahan tubuhku juga tak memungkinkan untuk memakai cincin guru besar tadi,” Sujangi menjelaskan.
“Tak apa-apa, sekarang kau rawat lukamu di rumah Hafid ya, biar Kakak Devi ini mengurus bayi ini di rumahku, kita bagi tugas ya Fid,” ucap Yoko sambil menoleh ke Hafid.
“Sepertinya itu ide bagus, sembuhkan luka om dulu, barulah kalian pulang,” sambung Shinta.
“Hei Shinta, apa kau tidak curiga dengan strategi mes*m ini? lagi pula namanya Dewi bukan Devi dan kenapa harus Bapak ini yang menginap di rumahku? kenapa tidak ditukar saja!!” omel Hafid pada Yoko.
“Kami sangat berterima kasih namun kami harus melanjutkan perjalanan ke tempat Ayahanda pangeran kecil kami ini,” Sujangi memotong pembicaraan.
“Ya udah kalau begitu pergilah, jika kalian ingin mempertaruhkan keselamatan bayi ini, dengan kondisi tubuh seperti itu, itu hak kalian,” ucap Yoko.
Karena tak ada pilihan mereka pun menyetujui saran Yoko dan sore itu pun mereka berpisah di persimpangan jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar